ANALISIS SPASIAL SUHU PERMUKAAN LAUT DI INDONESIA DAN ANALISIS TEMPORAL SUHU PERMUKAAN LAUT HALMAHERA (2014-2024)
Analisis Spasial Sebaran Suhu Permukaan Laut di Wilayah Indonesia
Gambar 1. Suhu Permukaan Laut di Wilayah Indonesia
Visualisasi yang tertera pada Gambar 1.1 adalah peta spasial dan persebaran Suhu Permukaan Laut (SPL) dalam wilayah Indonesia. Wilayah ini terletak di kawasan tropis yang dikenal memiliki suhu laut yang relatif tinggi sepanjang tahun. Jenis visualisasi yang digunakan adalah peta raster spasial dalam bentuk heatmap dengan gradasi warna biru-kuning-merah, di mana warna biru menunjukkan suhu rendah, biru muda hingga kuning menunjukkan suhu sedang, dan warna merah menunjukkan suhu tinggi.
Peta tersebut menggunakan gradasi suhu dari wilayah barat ke timur Indonesia. Wilayah barat Indonesia, khususnya sekitar Sumatera bagian utara dan Selat Malaka, menunjukkan suhu permukaan laut yang lebih rendah (berwarna biru hingga hijau), sedangkan wilayah timur Indonesia, terutama sekitar Laut Banda, Laut Maluku, dan Papua, menunjukkan suhu yang lebih tinggi (berwarna merah). Koordinat wilayah laut Indonesia umumnya terletak antara garis lintang 6° LU - 11° LS dan garis bujur 95° BT - 141° BT. Hal ini menggambarkan bahwa wilayah timur Indonesia mengalami suhu permukaan laut yang lebih hangat dibandingkan dengan wilayah barat.
Rentang suhu pada peta ditunjukkan oleh bar legenda di sebelah kanan, dengan suhu berkisar antara 299 K hingga lebih dari 303 K (sekitar 25,85 °C hingga lebih dari 29,85 °C). Visualisasi ini penting untuk memahami distribusi suhu laut di wilayah Indonesia yang berpengaruh terhadap pola iklim, ekosistem laut, serta potensi perikanan dan fenomena oseanografi seperti upwelling dan El Niño–Southern Oscillation (ENSO)
Analisis Perubahan Suhu Permukaan Laut di Laut Halmahera dalam rentang 10 tahun terakhir (2014-2024)
Gambar 2. Perubahan Suhu Permukaan Laut di Laut Halmahera dalam Rentang 10 Tahun Terakhir (2014-2024)
Visualisasi yang ditampilkan pada Gambar 2.2 merupakan peta spasial berupa peta perubahan suhu permukaan laut (ΔSPL) Laut Halmahera dalam rentang waktu 10 tahun terakhir (2014-2024). Secara Geografis, wilayah ini terletak di Indonesia bagian timur, mencakup perairan Pulau Halmahera dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Obi, Bacan, Seram, Morotai, dan Laut Maluku. Laut Halmahera juga terletak timur pada bagian tengah Laut Mediterania Australia, yang berbatasan dengan Samudra Pasifik di utara. Koordinat dari Laut Halmahera adalah 1° LU – 2° LS dan 126° BT – 129° BT. Jenis visualisasi yang digunakan adalah peta raster spesial dalam bentuk heatmap dengan gradasi warna biru-putih-merah, dimana biru menunjukkan perubahan kecil, putih menunjukkan perubahan sedang, dan merah menunjukkan peningkatan suhu yang tinggi. Berikut keterangan deskripsi peta spasial peta perubahan suhu permukaan laut di Laut Halmahera dalam rentang 10 tahun (2024-2014).
Tipe peta: Raster Spasial tipe heatmap
Legenda: ΔSPL = 2024 - 2014 dalam celsius
Palet warna:
Merah tua → ΔSPL tinggi (hingga +1.8°C)
Putih → ΔSPL sedang (~1.2–1.4°C)
Biru → ΔSPL rendah (<1.0°C)
Tipe data: Data grid interpolasi spasial berdasarkan nilai perubahan suhu rata-rata tahunan.co
Outline hitam: menampilkan area daratan
Perubahan SPL (2014-2024)
Keterangan: pembagian wilayah berdasarkan pembagian dari total rentang bujur dan lintang
Berdasarkan intepretasi dari perta menunjukkan bahwa terjadi perubahan suhu yang paling signifikan di bagian timur Laut Halmahera, ditandai dengan dominasi warna merah terang dengan perubahan SPL ±1,6–1,8°. Wilayah yang ditandai warna merah ini merupakan laut terbuka yang langsung berhadapan dengan Samudra Pasifik, dengan kisaran koordinat ±0°LU – 1°LU Dan ±128°BT –129°BT. Wilayah laut terbuka, atau zona pelagis, terdiri atas segala sesuatu yang ada di lautan di luar wilayah pesisir (MarineBio,2023). Koordinat ini rentan terhadap penetrasi radiasi matahari dan akumulasi panas laut permukaan, terlihat jelas dari warna merah tua pada peta. Secara geografis, laut timur berhadapan langsung dengan Samudra Pasifik tanpa penghalang daratan sehingga panas matahari tertahan di lapisan atas laut (Zardi, 2024). Penelitian oleh Tubalawony et al. (2023) di Jurnal Laut Pulau menyebut bahwa suhu permukaan laut di Laut Halmahera berkisar antara 26,2–31,6 °C dan sangat dipengaruhi oleh dinamika angin. Arah dan kecepatan angin penting dalam pergerakan massa air hangat sehinnga memperkuat akumulasi panas di wilayah.
Keterangan: Gambar setelah dibagi dalam 3 zona wilayah sesuai grid intepolasi.
Berikutnya, wilayah tengah relatif yang mencakup area dengan koordinat kurang lebih ±127°–128° BT dan 0° LU–1° LU. Pada peta, area ini ditunjukkan oleh warna oranye hingga jingga. Hal ini menunjukkan kenaikan suhu permukaan laut (SPL) dengan skala ±1,2–1,5°C selama 10 tahun terakhir. Kondisi pada wilayah ini menunjukkan adanya pola pemanasan yang meningkat, tapi tidak sebesar di wilayah timur. Hal ini kemungkinan besar dipengaruhi arus regional dan morfologi pulau. Arus regional adalah pola pergerakan massa air laut yang bersifat tetap atau musiman dan mengalir sesuai dengan perubahan angin (Pariwono, 1989). Di wilayah ini, Arus Mindanao Selatan dan Arlindo (Arus Lintas Indonesia) berperan membawa massa air sehingga panas merata dan mencegah penumpukkan panas di satu wilayah (Andi et al., 2024). Arus ini juga memicu upwelling downwelling, yakni naiknya massa air laut dari lapisan dalam ke permukaan untuk mencegah akumulasi panas pada satu titik. Selain itu, morfologi Pulai Halmahera berperan sebagai penghalang fisik terhadap panas dari Samudra Pasifik. Syaifullah (2015) dalam Jurnal Segara menjelaskan bahwa perairan yang berada dekat darat lebih menunjukkan respons suhu permukaan laut (SPL) yang stabil terhadap fenomena El Nino dibanding laut terbuka.
Terakhir, Wilayah barat Laut Halmahera dengan kisaran koordinat sekitar 126°–127° BT. Wilayah ini menunjukan dominasi warna biru dan putih, yang menunjukan perubahan suhu terkecil. Pada data, perubahan suhu permukaan laut (SPL) pada wilayah barat ±0.8 – 1.0°C selama 10 tahun terakhir. Stabilitas suhu yang didapatkan wilayah barat ini kemungkinan besar disebabkan oleh kedekatan lokasi dengan daratan Pulau Halmahera. Area daratan pada sekitar wilayah barat ini lebih luas dibandingkan wilayah tengah dan timur sehingga memperkuat alasan stabilitas suhu di wilayah barat. Daratan yang luas dapat menyerap dan melepas panas lebih lambat dibanding laut, menyebabkan suhu pesisir lebih stabil (Liu et al., 2014) Gelombang, pasang surut, dan arus berperan dalam menciptakan dinamika panas yang lebih stabil dibandingkan di laut lepas. Penelitian yang dilakukan oleh Setiawan et al. (2018) memperkuat analisi kami terhadap rendahnya suhu permukaan laut wilayah barat dengan menyatakan bahwa perairan pesisir di sekitar Pulau Halmahera memiliki variasi SPL lebih kecil dibandingkan laut terbuka.
Gambar 3. Suhu maksimum dan minimum
Selaras dengan interpretasi peta ΔSPL, grafik suhu maksimum dan minimum selama periode 2014–2024 juga menunjukkan tren pemanasan yang signifikan. Suhu maksimum yang melebihi 303°K tercatat hampir setiap tahun, khususnya setelah tahun 2020. Sementara itu, suhu minimum terendah tercatat pada tahun 2015, yaitu di bawah 300°K. Namun, sejak tahun 2020, suhu minimum tidak lagi turun di bawah angka tersebut, yang menunjukkan bahwa lapisan dasar permukaan laut juga mengalami peningkatan suhu. Hal ini memperkuat temuan bahwa pemanasan laut tidak hanya terjadi di permukaan terbuka, tetapi juga merata hingga ke wilayah pesisir. Menurut Ramadani (2022), faktor utama yang memengaruhi variasi suhu permukaan laut di wilayah Indonesia antara lain adalah angin muson, fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO), dan Indian Ocean Dipole (IOD).
Secara keseluruhan, perubahan suhu permukaan laut (ΔSPL) di Laut Halmahera selama periode 2014–2024 menunjukkan variasi yang cukup kontras antara wilayah timur, tengah, dan barat. Wilayah timur mengalami peningkatan suhu paling besar, dengan ΔSPL berkisar antara ±1,6–1,8°C. Hal ini disebabkan oleh lokasinya yang berada di laut terbuka dan langsung berhadapan dengan Samudra Pasifik, sehingga lebih rentan terhadap akumulasi panas dari radiasi matahari. Sebaliknya, wilayah barat menunjukkan perubahan suhu yang paling kecil, yaitu ±0,8–1,0°C, karena kedekatannya dengan daratan Pulau Halmahera yang berperan dalam menjaga kestabilan suhu laut. Sementara itu, wilayah tengah menunjukkan tren pemanasan yang meningkat namun masih dalam batas yang moderat, dengan rentang ΔSPL sebesar ±1,2–1,5°C. Perbedaan ini mencerminkan adanya pengaruh faktor-faktor geografis dan oseanografis yang kompleks, seperti bentuk morfologi daratan, arus laut regional, serta orientasi wilayah terhadap samudra terbuka, yang secara keseluruhan membentuk dinamika pemanasan laut di kawasan Halmahera.
Referensi
Liu, Y., Tang, C., & Zhao, X. (2014). Coastal land–sea temperature interactions and their effects on regional climate. Journal of Coastal Research, 30(3), 515–523.
Pariwono. (1989). Gaya Penggerak Pasang Surut. Puslitbang Oseanologi LIPI.
Setiawan, I., Utama, M., & Hermawan, B. (2018). Variasi suhu permukaan laut di perairan pesisir Pulau Halmahera. Jurnal Oseanografi, 7(1), 15–23.
Syaifullah, M. D. (2015). Suhu permukaan laut perairan Indonesia dan hubungannya dengan pemanasan global. Jurnal Segara, 11(2), 103–113. https://doi.org/10.15578/segara.v11i2.7356
Tubalawony, S., Kalay, D. E., & Buamona, Z. Z. (2023). Variabilitas suhu dan salinitas di Laut Halmahera. Jurnal Laut Pulau: Hasil Penelitian Kelautan, 2(2), 6–16. https://doi.org/10.30598/jlpvol2iss2pp6-16
Zardi, D. (2024). Atmosphere and ocean interactions. Rendiconti Lincei. Scienze Fisiche e Naturali, 35, 311–325. https://doi.org/10.1007/s12210-024-01243-y
MarineBio Conservation Society. (2023.). Open Ocean. Diakses 8 Juni 2025 pada https://www.marinebio.org/oceans/open-ocean/
Ramadani, A., Suhana, M. P., & Febrianto, T. (2022). Karakteristik spasial suhu permukaan laut perairan Kota Tanjungpinang pada empat musim berbeda. Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology, 15(1), 39–59. https://doi.org/10.21107/jk.v15i1.10832
Komentar
Posting Komentar