ANALISIS PETA SPASIAL DI LAUT ARAFURA

Laut Arafura terletak dibagian timur Indonesia, lebih tepatnya terletak diantara pulau Papua dan Australia, selain itu laut Arafura juga terletak diantara dua Samudera, yaitu Samudera pasifik dan hindia. Oleh karena itu, laut Arafura merupakan perairan yang menjadi jalur sirkulasi Arus Lintas Indonesia (Arlindo) atau Indonesian Throughflow (ITF) (Intan et al., 2023). Secara geografis Laut Arafura disebelah Utara berbatasan dengan Laut Seram, Laut Banda dan Laut Timor, di sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah Australia, di sebelah Timur berbatasan dengan Pulau Papua dan di sebelah Barat berbatasan dengan Kepulauan Tanimbar. Di sekitar Laut Arafura terdapat beberapa Pulau yaitu, Pulau Aru, Pulau Kei dan Pulau Tanimbar.  Menurut (Fadlan et al., 2017) Sebagai perairan yang memiliki posisi strategis, menjadikan laut Arafura mempunyai dinamika yang dipengaruhi oleh fenomena iklim yang terjadi. El Nino-Southern Oscillation (ENSO) merupakan salah satu fenomena iklim yang terjadi di laut Arafura. ENSO adalah fenomena yang terjadi karena perbedaan suhu permukaan di wilayah Samudera Pasifik sekitar garis khatulistiwa. 

Fenomena ENSO terbagi menjadi 3 fase, yaitu fase Normal, El Nino dan La Nina. Kondisi El Nino atau fase panas biasanya terjadi pada saat suhu permukaan laut (SPL) di Pasifik Tengah dan Timur sedang dalam kondisi yang lebih hangat dari biasanya. Sedangkan La Nina atau fase dingin terjadi ketika suhu permukaan laut (SPL) di Samudera Pasifik Tengah dan Timur sedang dalam kondisi lebih dingin dari biasanya. Ini terjadi pada saat kondisi antara atmosfer dan perairan yang menyebabkan terjadinya fenomena ENSO. Suhu dan salinitas merupakan parameter laut yang sangat penting, dikarenakan ini merupakan salah satu faktor yang digunakan untuk menganalisis fenomena yang terjadi di lautan. 


Gambar 1. Peta letak Laut Arafura

Gambar 2. Peta spasial rata-rata suhu permukaan Laut Arafura dari tahun 2014 hingga 2024


Laut Arafura adalah laut yang termasuk dalam kategori perairan dangkal, sehingga banyak menerima sinar matahari, hal ini dapat bermanfaat sebagai sumber energi untuk ekosistem perairan dan membantu menciptakan habitat ideal bagi ekosistem agar dapat berkembang biak. 

Dilihat dari hasil analisis peta spasial Laut Arafura, warna pada peta menunjukkan variasi suhu permukaan Laut Arafura, semakin oranye tua atau merah, menunjukkan bagian tersebut memiliki suhu permukaan laut yang lebih rendah. Sebaliknya warna hijau kebiruan menandakan bagian dengan suhu yang relatif lebih tinggi. Rata-rata suhu Laut Arafura dari tahun 2014-2024 adalah 27,84-29,28°C. Bagian barat daya Laut Arafura memiliki suhu yang relatif lebih panas yang ditandai dengan warna kuning kehijauan, dengan kisaran suhu sekitar 28,8-29°C. Pada bagian timur Laut Arafura, memiliki suhu yang lebih rendah dibandingkan dengan bagian barat Laut Arafura, ditandai dengan warna oranye hingga merah pada bagian timur Laut arafura dengan kisaran suhu 27,84-28,08°C. Pada bagian tengah Laut Arafura didominasi dengan suhu kisaran 28,56-28,32°C yang ditandai dengan transisi warna oranye dan kuning muda. Terlihat pada bagian laut yang dekat dengan Pulau Papua memiliki suhu lebih rendah jika dibandingkan dengan bagian yang dekat dengan Pulau Australia. 

Pada fase El Nino, penguatan angin timuran dan perubahan pola sirkulasi menyebabkan pendinginan SPL di Laut Arafura. Sebaliknya, pada fase La Nina, angin cenderung melemah sehingga SPL cenderung lebih tinggi. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada suhu, tetapi juga pada salinitas dan distribusi massa air, yang pada akhirnya memengaruhi proses-proses penting seperti upwelling dan downwelling, serta distribusi nutrien di perairan (Buton et al., 2023). Selain itu, fenomena El Nino Modoki, yang merupakan varian dari El Nino dengan pusat pemanasan di bagian tengah Samudera Pasifik, juga dapat memengaruhi SPL di Laut Arafura, terutama pada musim-musim tertentu, seperti musim Timur, di mana pengaruhnya sangat kuat terhadap SPL (Wahyunia et al., 2018).

Secara teoritis, Laut Arafura merupakan kawasan yang sangat sensitif terhadap perubahan iklim global karena letaknya yang strategis di antara Samudera Pasifik dan Australia. Variasi SPL yang terjadi merupakan refleksi dari respons sistem laut terhadap perubahan tekanan atmosfer, pola angin muson, serta anomali suhu global yang dipicu oleh ENSO dan fenomena iklim lainnya. Oleh karena itu, pemantauan dan pemahaman terhadap variabilitas SPL di Laut Arafura sangat penting untuk pengelolaan ekosistem laut dan adaptasi terhadap perubahan iklim di masa depan (Rupassa & Wattimury, 2022).

DAFTAR PUSTAKA

Buton, I., Tubalawony, S., & Wattimena, M. (2023). Variabilitas Hidrometeorologi Permukaan Laut Arafura Pada Saat Fenomena Enso. Jurnal Laut Pulau: Hasil Penelitian Kelautan, 2(2), 32-50. https://doi.org/10.30598/jlpvol2iss2pp32-50 

Rupassa, Y., & Wattimury, J. J. (2022). Variabilitas musiman suhu permukaan laut dan angin di Laut Arafura. Jurnal Laut Pulau, 1(2), 71–84. https://doi.org/10.30598/jlpvol11ss2pp71-84 

Wahyuni, Muladi, & Apriansyah. (2018). Hubungan ENSO dan El Niño Modoki terhadap suhu permukaan laut di Laut Arafura. Prisma Fisika, 6(3), 195–199.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS SPASIAL SUHU PERMUKAAN LAUT DI INDONESIA DAN ANALISIS TEMPORAL SUHU PERMUKAAN LAUT HALMAHERA (2014-2024)

ANALISIS RATA – RATA SUHU PERMUKAAN LAUT PADA WILAYAH GILI TRAWANGAN

ANALISIS SUHU PERMUKAAN LAUT DI PULAU KARIMUNJAWA