ANALISIS RATA-RATA SUHU PERMUKAAN LAUT DI SELAT BALI PERIODE 2015-2024

               Selat Bali merupakan perairan sempit yang memisahkan Pulau Bali dan Pulau Jawa, serta menghubungkan Laut Bali di utara dengan Samudra Hindia di selatan. Selat ini termasuk salah satu jalur penting dalam sistem Arlindo (Arus Lintas Indonesia), yaitu arus laut yang membawa massa air dari Samudra Pasifik menuju Samudra Hindia melalui perairan Indonesia. Selain perannya dalam sirkulasi regional, Selat Bali juga memiliki nilai strategis dalam sektor perikanan, pelayaran, dan ekosistem laut tropis yang produktif (Susanto et al., 2001; Wirasatriya et al., 2018).

Sebagai bagian dari wilayah tropis maritim, dinamika suhu permukaan laut (SST) di Selat Bali dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti sirkulasi arus, musim monsun, hingga variabilitas iklim global seperti El Niño–Southern Oscillation (ENSO). Oleh karena itu, memantau perubahan suhu permukaan laut secara berkala di wilayah ini menjadi penting untuk memahami dampaknya terhadap ekosistem dan aktivitas manusia.

Gambar 1. Rata-rata tahunan suhu permukaan laut di Selat Bali periode 2015-2024

Berdasarkan hasil analisis data suhu permukaan laut (SST) dari tahun 2015 hingga 2024, ditemukan adanya fluktuasi tahunan yang cukup mencolok. Grafik menunjukkan bahwa suhu permukaan laut mengalami peningkatan tajam pada tahun 2016 dengan nilai tertinggi mencapai 29,38°C, setelah sebelumnya berada di kisaran 28,2°C pada tahun 2015. Kenaikan suhu ini diduga berkaitan erat dengan fenomena El Niño kuat yang terjadi pada 2015–2016, yang mengurangi intensitas upwelling dan meningkatkan suhu permukaan di wilayah tropis, termasuk Selat Bali (BMKG, 2016; Lestari et al., 2021).

Setelah tahun 2016, tren suhu cenderung menurun hingga tahun 2019, lalu meningkat kembali secara fluktuatif hingga tahun 2024. Pada tahun 2020 dan 2024 tercatat kenaikan suhu yang cukup signifikan, seiring dengan berkurangnya aktivitas upwelling dan pengaruh pemanasan global yang dilaporkan meningkat pada dekade terakhir (IPCC, 2021). Meskipun variasi suhu antartahun relatif kecil (sekitar ±1°C), perubahan ini tetap penting karena dapat memengaruhi produktivitas primer laut, distribusi ikan, hingga kesehatan terumbu karang.

Gambar 2. Data spasial rata-rata suhu permukaan laut di Selat Bali periode 2015-2024

Analisis spasial suhu rata-rata (peta) selama 2015–2024 menunjukkan pola distribusi suhu yang tidak merata di Selat Bali. Wilayah utara cenderung memiliki suhu permukaan yang lebih tinggi (≥29°C), sementara wilayah selatan, khususnya yang berbatasan dengan Samudra Hindia, menunjukkan suhu lebih rendah (≤28°C). Pola ini mengindikasikan adanya proses upwelling di bagian selatan, terutama pada musim kemarau saat angin timur bertiup kencang, membawa massa air dingin dari lapisan bawah ke permukaan (Nugroho et al., 2020). Upwelling ini juga berkontribusi terhadap tingginya produktivitas perairan selatan Bali yang menjadi lokasi penangkapan ikan penting secara nasional.

Sebaliknya, suhu tinggi di wilayah utara diduga berkaitan dengan perairan dangkal dan lebih tertutup, sehingga lebih mudah mengalami pemanasan akibat radiasi matahari dan aktivitas antropogenik di wilayah pesisir.

Secara keseluruhan, hasil analisis menunjukkan bahwa suhu permukaan laut di Selat Bali dipengaruhi oleh kombinasi faktor iklim global (seperti ENSO), proses oseanografi lokal (seperti upwelling dan arus), serta dinamika musim. Variasi suhu ini perlu terus dipantau untuk mendukung kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan perikanan yang berbasis data ilmiah dan adaptif terhadap perubahan iklim.






Gambar 3. Suhu permukaaan laut di Selat Bali pada tanggal 1 September 2016

Berdasarkan peta suhu permukaan laut (SST) Selat Bali pada tanggal September 2016, terlihat adanya pola distribusi suhu yang mencolok antara wilayah utara dan selatan. Suhu permukaan laut di bagian utara Selat Bali, dekat perairan Jawa dan Laut Bali, cenderung lebih hangat, dengan suhu mencapai lebih dari 29°C. Sebaliknya, suhu di bagian selatan, khususnya di perairan selatan Pulau Bali dan sekitar Lombok, lebih rendah, berkisar antara 27,1°C hingga 28°C. (Susanto et al, 2001)

Perbedaan suhu ini mencerminkan adanya gradien suhu yang kuat dari utara ke selatan dan mengindikasikan adanya proses upwelling di selatan Bali, di mana air laut yang lebih dingin dan kaya nutrien naik ke permukaan akibat pengaruh angin muson timur yang umum terjadi pada musim kemarau.

Fenomena ini sangat berkaitan dengan dinamika sirkulasi laut di kawasan tropis maritim Indonesia, khususnya peran Selat Bali dalam sistem Arlindo (Arus Lintas Indonesia) yang membawa massa air hangat dari Samudra Pasifik menuju Samudera Hindia. Keberadaan upwelling dan variasi suhu ini juga berdampak besar pada ekosistem laut, terutama meningkatkan produktivitas perairan selatan Bali yang penting bagi sektor perikanan. 





Daftar Pustaka

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. (2016). Buletin Iklim Nasional 2015–2016. Jakarta: BMKG.

IPCC. (2021). Climate Change 2021: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/9781009157896

Lestari, S. D., Fachruddin, F., & Indrawan, I. (2021). Dampak El Niño 2015–2016 terhadap Suhu Permukaan Laut di Perairan Indonesia. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 13(2), 467–479. https://doi.org/10.29244/jitkt.v13i2.35911

Nugroho, D., Purba, N. P., & Setiawan, R. Y. (2020). Variabilitas Musiman Upwelling di Perairan Selatan Jawa–Bali. Ilmu Kelautan: Indonesian Journal of Marine Sciences, 25(3), 153–161. https://doi.org/10.14710/ik.ijms.25.3.153-161

Susanto, R. D., Gordon, A. L., & Zheng, Q. (2001). Upwelling along the coasts of Java and Sumatra and its relation to ENSO. Geophysical Research Letters, 28(8), 1599–1602. https://doi.org/10.1029/2000GL011844

Wirasatriya, A., et al. (2018). Sea surface temperature variability and its relationship with chlorophyll-a concentration in the southern waters of Bali and Lombok Islands. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 139, 012050. https://doi.org/10.1088/1755-1315/139/1/012050

Susanto, R. D., Gordon, A. L., & Zheng, Q. (2001). Upwelling along the coasts of Java and Sumatra and its relation to ENSO. Geophysical Research Letters, 28(8), 1599–1602.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS SPASIAL SUHU PERMUKAAN LAUT DI INDONESIA DAN ANALISIS TEMPORAL SUHU PERMUKAAN LAUT HALMAHERA (2014-2024)

ANALISIS RATA – RATA SUHU PERMUKAAN LAUT PADA WILAYAH GILI TRAWANGAN

ANALISIS SUHU PERMUKAAN LAUT DI PULAU KARIMUNJAWA