ANALISIS RATA-RATA SUHU PERMUKAAN LAUT DI WILAYAH SELAT MALAKA

 Selat Malaka merupakan salah satu jalur laut sempit terpenting di dunia, yang membentang antara Semenanjung Malaya di sisi barat dan Pulau Sumatra di sisi timur (Aldebaran et al., 2016). Selat ini menjadi bagian dari perairan barat Indonesia dan secara geografis menghubungkan Laut Andaman dengan perairan Selat Singapura dan Laut Cina Selatan (Lukman et al., 2022). Secara koordinat, wilayah kajian berada di sekitar 4° Lintang Utara dan 100° Bujur Timur, yang termasuk dalam zona tropis dengan karakteristik oseanografi yang dipengaruhi oleh sirkulasi angin muson, arus lintas khatulistiwa, serta dinamika air pesisir dan perairan dalam (Faizah et al., 2019). 

Letaknya yang berdekatan dengan kawasan pesisir Sumatra dan berada di jalur arus lintas regional menyebabkan Selat Malaka menerima pengaruh dari berbagai faktor oseanografi. Di musim-musim tertentu, perairan ini bisa mengalami perubahan salinitas, pasang surut yang kuat, serta arus permukaan yang kompleks sebagai respons terhadap angin muson dan perbedaan tekanan laut global. Karena itu, variasi suhu permukaan laut (SPL) di wilayah ini dapat mencerminkan kondisi dinamika laut yang aktif. 

1. Distribusi Spasial Suhu Permukaan Laut Selat Malaka 

Analisis peta spasial berdasarkan gambar 1 menunjukkan bahwa zona selatan dan barat daya Selat Malaka memiliki suhu permukaan laut yang relatif tinggi, berkisar antara 30,0–30,4 °C. Nilai ini konsisten dengan karakteristik kawasan ber perairan dangkal yang cepat menyerap panas dengan distribusi spasial suhu yang lebih hangat di wilayah selatan dan suhu yang lebih rendah di wilayah utara selat karena pengaruh dari Laut Andaman (Lukman et al., 2022). Penurunan SPL pada musim barat dipengaruhi oleh monsun timur laut yang membawa udara dingin dan kering, meningkatkan evaporasi dan mendukung pembentukan thermal front. Studi Isa et al. (2020) yang menganalisis data suhu selama 33 tahun juga menunjukkan bahwa SPL di Selat Malaka selalu lebih hangat dibandingkan Laut Andaman selama musim barat daya, dengan suhu mencapai 29,88°C di selat dan hanya 27,99°C di laut, membentuk gradien termal horizontal yang kuat dan menghasilkan thermal front musiman di bagian utara selat.




Gambar 1 Peta Spasial Suhu Permukaan Laut Selat Malaka 


Fenomena thermal front yaitu sebuah zona atau batas di perairan laut yang ditandai dengan perubahan suhu yang sangat tajam dalam jarak yang relatif pendek menjadi batas termal antara massa air hangat dari selat dan massa air dingin dari Laut Andaman, yang dipicu oleh perbedaan suhu dan sirkulasi arus permukaan yang didorong oleh monsun (Isa et al., 2020). Penelitian ini didukung pula oleh temuan Annisa Aulia Lukman dkk., yang menyatakan bahwa thermal front di Selat Malaka paling banyak terjadi pada musim timur ketika suhu relatif menurun, dan lebih sering muncul di wilayah utara selat yang memiliki kedalaman >1000 meter, menunjukkan hubungan erat antara distribusi spasial SPL dan batimetri. Dalam kaitannya dengan variabilitas iklim global, seperti ENSO dan IOD, jumlah kejadian thermal front cenderung meningkat pada tahun-tahun dengan El-Niño atau IOD positif, seperti tahun 2015 yang mencatat jumlah thermal front maksimum (569 kejadian), namun efeknya bervariasi tergantung pada intensitas fenomena tersebut (Lukman et al., 2022). Dengan demikian, ketiga studi tersebut secara konsisten menunjukkan bahwa SPL di Selat Malaka sangat dipengaruhi oleh faktor musiman, regional, dan global, serta berperan penting dalam pembentukan thermal front yang memengaruhi dinamika oseanografi dan ekosistem perairan regional. 

2. Tren Suhu Tahunan Selat Malaka (2015-2024) 

Berdasarkan grafik suhu tahunan pada gambar 2, terlihat adanya tren peningkatan suhu permukaan laut (SST) di selat Malaka dari tahun 2015 hingga 2024. Suhu tertinggi terjadi pada tahun 2016 dan 2024

dengan suhu mencapai sekitar 30,1–30,2°C, sementara titik terendah terjadi pada tahun 2015 dengan suhu sekitar 29,6°C. Peningkatan suhu yang signnifikan pada tahun 2016 dapat dikaitkan dengan fenomena El Niño kuat 2015–2016, yang terbukti dengan peningkatan suhu laut tropis permukaan laut di Selat Malaka dan perairan sekitarnya (Swandiko et al., 2021). Menurut Mubarak et al. (2022), suhu permukaan laut di Selat Singapura yang langsung terhubung dengan Selat Malaka mencapai titik tertinggi pada musim kemarau akibat peningkatan intensitas radiasi matahari dan penurunan curah hujan. Penelitian ini juga mencatat bahwa suhu permukaan laut berkorelasi negatif dengan curah hujan, di mana suhu yang lebih tinggi menyebabkan penurunan curah hujan karena kurangnya pendinginan oleh presipitasi. 

Gambar 2 Grafik Rata-rata Suhu Permukaan Laut Selat Malaka 


Tren jangka panjang selama 2015–2024 menunjukkan adanya kenaikan SST tahunan yang bertahap, dengan rata-rata peningkatan sekitar 0,05°C per tahun, sesuai dengan penelitian oleh Isa et al. (2020) yang mencatat peningkatan tahunan serupa berdasarkan data satelit AVHRR selama 33 tahun (1982–2014). Mereka menemukan bahwa suhu di Selat Malaka lebih tinggi pada musim barat daya (Juni–Agustus) dan lebih rendah pada musim timur laut (Desember–Februari) akibat pengaruh monsun, radiasi matahari, dan arus laut regional. Selain itu, Isa et al. (2020) juga menyoroti bahwa pada musim barat daya, SST di Selat Malaka mencapai puncak tertinggi (29,88°C ± 0,01) karena radiasi matahari yang tinggi dan angin barat daya yang lemah memungkinkan akumulasi panas permukaan laut. Sebaliknya, pada musim timur laut, suhu menurun karena pengaruh hujan tinggi dan pendinginan evaporatif 

3. Implikasi Oseanografi dan Lingkungan 

Peningkatan suhu permukaan laut memiliki dampak ekologis yang besar:

Produktivitas perikanan dapat menurun karena gangguan pada migrasi plankton dan ikan yang berperan penting sebagai sumber makanan utama ikan. 

Suhu >30°C yang bertahan lama dapat memicu pemutihan karang (coral bleaching) dan mengganggu siklus oksigen terlarut, yang berujung pada kematian karang dan menurunnya keanekaragaman hayati. 

Perubahan pola arus lokal akibat perubahan gradien suhu juga dapat mengganggu proses upwelling alami yaitu proses naiknya massa air laut yang lebih dalam, lebih dingin, dan kaya nutrien ke permukaan laut yang penting bagi ekosistem dasar.



DAFTAR PUSTAKA 

Aldebaran, S., Utomo, T. C., & Hanura, M. (2016). UPAYA LITTORAL STATES (INDONESIA, MALAYSIA DAN SINGAPURA) DENGAN USER STATES DALAM MEMBERANTAS KEJAHATAN ARMED ROBBERY (PEROMPAKAN BERSENJATA) DI SELAT MALAKA TAHUN 2008-2013. Journal of International Relations, 2(2), 72–79. 

Faizah, R., & Sadiyah, L. (2019). ASPEK BIOLOGI DAN PARAMETER PERTUMBUHAN IKAN LAYANG (Decapterus russelli, Rupell, 1928) DIPERAIRAN SELAT MALAKA. BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap, 11(3), 175. https://doi.org/10.15578/bawal.11.3.2019.175-187 

Isa, N. S., Akhir, M. F., Khalil, I., Poh, H. K., & Roseli, N. H. (2020). Seasonal Characteristics of Sea Surface Temperature and Sea Surface Currents in the Strait of Malacca and Andaman Sea. Journal of Sustainability Science and Management, 15(4), 66–77. https://doi.org/10.46754/jssm.2020.06.007 

Isa, N. S., Akhir, M. F., Kok, P. H., Daud, N. R., Khalil, I., & Roseli, N. H. (2020). Spatial and temporal variability of sea surface temperature during El-Niño Southern Oscillation and Indian Ocean Dipole in the Strait of Malacca and Andaman Sea. Regional Studies in Marine Science, 39, 101402. https://doi.org/10.1016/j.rsma.2020.101402 

Lukman, A. A., Tarya, A., & Pranowo, W. S. (2022). Surface Thermal Front Persistence in Malacca Strait. Jurnal Ilmiah PLATAX, 10(2), 16. https://doi.org/10.35800/jip.v10i2.40879

Mubarak, M., Rifardi, R., Nurhuda, A., Syahputra, R. F., & Retnawaty, S. F. (2022). Sea Surface Temperature (SST) and Rainfall Trends in the Singapore Strait from 2002 to 2019. Indonesian Journal of Geography, 54(1). https://doi.org/10.22146/ijg.68738 

Swandiko, M., Wirasatriya, A., Marwoto, J., Muslim, M., Indrayanti, E., Subardjo, P., & Ismunarti, D. H. (2021). Studi Persistensi Suhu Permukaan Laut Tinggi (>30°C) di Perairan Selat Malaka. Buletin Oseanografi Marina, 10(2), 162–170. https://doi.org/10.14710/buloma.v10i2.31554

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS SPASIAL SUHU PERMUKAAN LAUT DI INDONESIA DAN ANALISIS TEMPORAL SUHU PERMUKAAN LAUT HALMAHERA (2014-2024)

ANALISIS RATA – RATA SUHU PERMUKAAN LAUT PADA WILAYAH GILI TRAWANGAN

ANALISIS SUHU PERMUKAAN LAUT DI PULAU KARIMUNJAWA