ANALISIS RATA – RATA SUHU PERMUKAAN LAUT PADA WILAYAH PULAU SERIBU

 


Gambar.1 Peta Sebaran Suhu Permukaan Laut Wilayah Indonesia

Tahun 2024 ditetapkan sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat di Indonesia, dengan suhu rata-rata global mencapai 1,55 °C lebih tinggi dibandingkan suhu pada era pra-industri (1850–1900). Untuk pertama kalinya, suhu global tahunan melampaui ambang batas 1,5 °C yang disepakati dalam Perjanjian Paris tahun 2015. Periode satu dekade terakhir (2015–2024) menjadi rentang waktu terpanas sepanjang sejarah pencatatan suhu, mengindikasikan tren pemanasan global yang terus berlanjut. Di Indonesia sendiri, tahun 2024 mencatatkan rekor tertinggi sejak pengamatan dimulai pada 1981, dengan suhu rata-rata mencapai 27,5 °C dan anomali sebesar 0,8 °C jika dibandingkan dengan periode normal 1991–2020. Selain itu, data satelit menunjukkan bahwa permukaan laut mengalami kenaikan rata-rata sebesar 4,3±0,4 mm per tahun.


Gambar. 2 Peta Sebaran Suhu Permukaan laut wilayah Kepulauan Seribu


Kepulauan Seribu yang merupakan gugusan pulau-pulau yang telah dihuni dan belum dihuni dengan total wilayah daratan seluas 855,97 ha, pada saat ini termasuk wilayah Kecamatan Kepulauan Seribu Daerah Khusus Ibukota Jakarta (Santoso, 2005). Kepulauan seribu terdiri dari 110 pulau dan 11 diantaranya dihuni oleh penduduk. Kondisi angin di Kepulauan Seribu sangat dipengaruhi angin monsun yaitu Angin Musim Barat (Desember-Maret) dan Angin Musim Timur (Juni-September). Musim Pancaroba terjadi antara bulan April-Mei dan Oktober-November (Suhendar & Sachoemar, 2008). 


Pada gambar 2 merupakan peta sebaran suhu permukaan laut (SPL) di wilayah kepulauan seribu yang divisualisasikan dalam satuan kelvin (°K). Peta ini menunjukkan grid-grid berwarna yang masing masing mempresentasikan suhu di titik atau area tertentu di permukaan laut.  Area dengan Suhu Permukaan Laut lebih tinggi yang berwarna merah atau oranye,  dapat mengindikasikan lokasi dengan paparan sinar matahari yang lebih intens, perairan dangkal, atau pengaruh arus hangat. Wilayah dengan Suhu Permukaan Laut lebih rendah atau berwarna biru, bisa dipengaruhi oleh upwelling, arus dingin, atau kedalaman laut yang lebih besar. Perubahan Suhu Permukaan Laut seperti ini penting untuk memantau kesehatan ekosistem laut serta mendeteksi fenomena seperti El Nino atau La Nina yang berdampak pada suhu laut.

Gambar. 3 Grafik Time Series Suhu Permukaan Laut Kepulauan Seribu


Hasil grafik time series di atas, memakai  koordinat latitude = -6 to -5, longitude = 106.3 to 107.3 menghasilkan semua nilai NaN (kosong). Maka untuk mengantisipasi hal tersebut, digunakan teknik slicing dibalik untuk memunculkan nilai. Cara kerja slice di xarray, slicing dengan slice (a, b) akan mengambil data dari a ke b searah dengan urutan data (Harris et al., 2020). Karena slicing dengan latitude -6 to -5 tidak memunculkan data, maka solusinya adalah dengan membalik arah slice agar cocok dengan urutan data, menjadi latitude = slice (-5, to -6). Grafik menunjukkan fluktuasi suhu permukaan laut yang signifikan di Kepulauan Seribu selama periode 2012-2024. Suhu Permukaan Laut berkisar antara 301,0°K hingga 303,7°K (setara 27,85°C - 30,55°C), dengan variasi musiman dan tahunan yang jelas terlihat. Pada 2016, Suhu permukaan laut mencapai 303,5°K atau 29,85°C sejalan dengan temuan Coral Watch yang mencatat suhu tertinggi di Kepulauan Seribu 31,84°C pada tahun 2015. Hal ini merupakan anomali akibat fenomena El Nino. Kenaikan Suhu Permukaan Laut sebesar 1–2°C dari rata-rata dapat menyebabkan stres dan pemutihan karang di wilayah ini. Penelitian Purnamasari & Cahyarini (2010) menunjukkan bahwa pertumbuhan koral di perairan lepas pantai Kepulauan Seribu sangat dipengaruhi oleh SPL tahunan.




Daftar Pustaka


BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika). 2025. Catatan Iklim dan Kualitas Udara Indonesia 2024. Deputi Bidang Klimatologi, Jakarta.

Harris, C. R., Millman, K. J., van der Walt, S. J., Gommers, R., Virtanen, P., Cournapeau, D., Wieser, E., Taylor, J., Berg, S., Smith, N. J., Kern, R., Picus, M., Hoyer, S., van Kerkwijk, M. H., Brett, M., Haldane, A., Fernández del Río, J., Wiebe, M., Peterson, P., Gérard-Marchant, P., Sheppard, K., Reddy, T., Weckesser, W., Abbasi, H., Gohlke, C., & Oliphant, T. E. (2020). Array programming with NumPy. Nature, 585(7825), 357–362. https://doi.org/10.1038/s41586-020-2649-2

N. Santoso. (2005). PELESTARIAN VEGETASI LOKAL DALAM RANGKA PENGEMBANGAN TATA RUANG KEPULAUAN SERIBU. Media Konservasi, 10(1), 7 – 11

Purnamasari, I. A., & Cahyarini, S. Y. (2020) SUHU MUKA LAUT DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN LINIER KORAL KEPULAUAN SERIBU. Riset Geologi dan Pertambangan, 20(2), 111 - 117

Tirta, C.A. 2017. Dampak El Nino 2015 terhadap Pemutihan Karang Bercabang (Acropora dan Seriatopora) di Area Perlindungan Laut Kepulauan Seribu. Skripsi. Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB, Bogor.

Yanti, D. R., Subagio, A., & Fatah, A. A. (2020). PERKEMBANGAN SEKTOR PARIWISATA KEPULAUAN SERIBU DAN DAMPAKNYA TERHADAP PEREKONOMIAN MASYARAKAT. Bihari: Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sejarah, 3(1), 53 – 58


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS SPASIAL SUHU PERMUKAAN LAUT DI INDONESIA DAN ANALISIS TEMPORAL SUHU PERMUKAAN LAUT HALMAHERA (2014-2024)

ANALISIS RATA – RATA SUHU PERMUKAAN LAUT PADA WILAYAH GILI TRAWANGAN

ANALISIS SUHU PERMUKAAN LAUT DI PULAU KARIMUNJAWA