ANALISIS RATA-RATA SUHU PERMUKAAN LAUT WILAYAH SELAT MADURA PERIODE 2011-2024

     Visualisasi ini menampilkan distribusi suhu permukaan laut di Wilayah Selat Madura pada tanggal 1 Januari 2011. Data SPL yang digunakan dalam analisis ini penting untuk memahami dinamika oseanografi regional perairan Indonesia, termasuk Selat Madura, yang sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim global dan regional (Puspitasari & Putri, 2021). Dari peta SPL ini, dapat diamati variasi suhu di berbagai titik perairan. Skala warna menunjukkan rentang suhu, di mana warna gelap cenderung menunjukkan suhu yang lebih rendah dan warna terang (kuning) menunjukkan suhu yang lebih tinggi. Pada visualisasi ini, terlihat bahwa sebagian besar wilayah Selat Madura memiliki suhu permukaan laut berkisar antara 301.5 C hingga 302.2 C. 

 

A close-up of a map

Description automatically generated 

Gambar 1. Peta Distribusi Suhu Permukaan Laut (SPL) Wilayah Selat Madura pada 

2011-01-01 

 

Grafik deret waktu (time series) ini menunjukkan perubahan suhu rata-rata permukaan laut di Wilayah Selat Madura dari tahun 2011 hingga 2024. Analisis deret waktu SPL sangat krusial untuk mengidentifikasi pola variabilitas iklim lokal dan global serta dampaknya terhadap perikanan dan lingkungan laut (Purba et al., 2018). Dari grafik ini, beberapa pola dan tren dapat diidentifikasi: 

  1. Pola Musiman: Terlihat adanya fluktuasi suhu yang cukup teratur setiap tahunnya. Suhu rata-rata cenderung menunjukkan puncak dan lembah secara periodik, mengindikasikan adanya pola musiman yang mungkin terkait dengan perubahan musim dan kondisi iklim di Indonesia. Umumnya, suhu cenderung lebih tinggi pada periode tertentu dalam setahun dan menurun pada periode lainnya. Pola musiman SPL di perairan Indonesia seringkali dikaitkan dengan pergerakan monsun (Aldrian & Dwi Susanto, 2003). 

  2. Rentang Variasi Suhu: Selama periode 10 tahun ini, suhu rata-rata di Selat Madura berfluktuasi antara sekitar 27.5 C hingga 30.5 C. Variasi suhu ini menunjukkan dinamika oseanografi di wilayah tersebut. 

  3. Tren Jangka Panjang (Tentatif): Meskipun terdapat fluktuasi musiman yang dominan, perlu dilakukan analisis lebih lanjut untuk mengidentifikasi adanya tren peningkatan atau penurunan suhu rata-rata jangka panjang. Secara visual, tidak ada tren kenaikan atau penurunan yang sangat drastis dan konsisten sepanjang periode, namun terdapat variasi antar tahun. Misalnya, pada beberapa tahun seperti sekitar 2016-2017 dan 20192020, terlihat suhu cenderung mencapai puncaknya. Peningkatan SPL secara global menjadi perhatian utama dan dapat memengaruhi ekosistem laut (Hoegh-Guldberg et al., 2007). 

  4. Puncak dan Lembah Ekstrem: Grafik menunjukkan beberapa titik di mana suhu mencapai nilai tertinggi (misalnya sekitar 30.5 C) dan terendah (sekitar 27.5 C). Analisis lebih mendalam dapat dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi pada suhu ekstrem ini, seperti fenomena El Nino/La Nina atau perubahan arus laut. Fenomena iklim global seperti El Nino Southern Oscillation (ENSO) diketahui mempengaruhi suhu permukaan laut secara signifikan dan memiliki dampak regional terhadap iklim dan perikanan di Indonesia (Sopaheluwakan et al., 2010). 

Data deret waktu ini sangat berguna untuk memahami variabilitas suhu permukaan laut di Selat Madura dan dapat menjadi dasar untuk studi lebih lanjut mengenai dampaknya terhadap ekosistem laut dan aktivitas manusia di sekitarnya. 

A graph showing the same number of data

Description automatically generated with medium confidence 

Gambar 2. Time Series Suhu Rata-rat di Wilayah Selat Madura periode 2011-2024


Daftar Pustaka 

Aldrian, E., & Dwi Susanto, R. (2003). Identification of three dominant rainfall regions in Indonesia. International Journal of Climatology, 23(12), 1435–1447. 

Hoegh-Guldberg, O., Mumby, P. J., Hooten, A. J., Steneck, R. S., Green, A. C., Harvell, G. R., ... & Sale, P. F. (2007). Coral reefs under rapid climate change and ocean acidification. Science, 318(5857), 1737–1742. 

Puspitasari, R., & Putri, A. K. (2021). Analisis Suhu Permukaan Laut dan Konsentrasi Klorofila di Perairan Selat Madura Menggunakan Data Satelit Aqua Modis. Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology, 14(2), 160-170. 

Purba, N. P., Baskoro, A., & Fauzi, S. (2018). Variabilitas Suhu Permukaan Laut dan Hubungannya dengan Hasil Tangkapan Ikan Pelagis di Perairan Indonesia. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 10(1), 179-191. 

Sopaheluwakan, A., Suhardi, & Setiawan, I. (2010). Pengaruh El Nino Southern Oscillation terhadap Suhu Permukaan Laut dan Curah Hujan di Beberapa Lokasi di 

Indonesia. Jurnal Sains Dirgantara, 7(1), 1-12. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS SPASIAL SUHU PERMUKAAN LAUT DI INDONESIA DAN ANALISIS TEMPORAL SUHU PERMUKAAN LAUT HALMAHERA (2014-2024)

ANALISIS RATA – RATA SUHU PERMUKAAN LAUT PADA WILAYAH GILI TRAWANGAN

ANALISIS SUHU PERMUKAAN LAUT DI PULAU KARIMUNJAWA