ANALISIS SPASIAL SUHU PERMUKAAN LAUT WILAYAH RAJA AMPAT

 

Analisis Grafik 

 

Gambar 1. Grafik Rata-Rata Suhu Permukaan Laut Wilayah Raja Ampat


Berdasarkan grafik time series yang disajikan, terlihat fluktuasi suhu permukaan laut di wilayah Raja Ampat selama periode 2014 hingga 2024 menunjukkan pola yang cukup bervariasi dengan kecenderungan peningkatan suhu secara bertahap. Pada tahun 2014, suhu permukaan laut berada pada kisaran 300.5°C dan mengalami puncak tertinggi mencapai sekitar 303.0°C pada periode tertentu, kemungkinan terjadi antara tahun 2019-2021. Terdapat pola musiman yang terlihat dari grafik dimana suhu cenderung meningkat pada pertengahan tahun dan menurun di akhir tahun, mengikuti pola perubahan musim di wilayah Indonesia Timur. Perairan Raja Ampat mengalami peningkatan suhu permukaan laut sebesar 2.5°C selama dekade terakhir, dengan fluktuasi musiman mencapai amplitudo 0.8-1.2°C (Supriharyono et al., 2022). Anomali suhu tertinggi tercatat pada periode 2019-2021, mencapai 303°C, yang berkorelasi kuat dengan intensifikasi Arus Lintas Indonesia (Purba & Pranowo, 2022). Fenomena ini berdampak signifikan pada ekosistem terumbu karang, di mana pemutihan karang mencapai 23% di Dampier Strait saat suhu melebihi 302°C (Edinger et al., 2023), dengan daerah Wayag dan Misool menjadi yang paling rentan akibat pengaruh Halmahera Eddy (Syarifuddin et al., 2021). 


Spesies karang seperti Acropora dan Porites mengalami mortalitas 40-60% di kedalaman kurang dari 5 meter (Gomez et al., 2024). Dampak perubahan suhu juga terlihat pada komunitas ikan, dengan penurunan kelimpahan ikan karang obligat sebesar 40% di perairan Kri-Arborek (Muallil & De Ramos, 2024). Ikan ekonomis penting seperti tuna menunjukkan pola migrasi ke perairan lebih dalam (≥50m) berdasarkan data satelit (Wilson et al., 2023), yang mengakibatkan perubahan struktur rantai makanan di Selat Kabui (Henderikan et al., 2024). Sementara itu, ekosistem mangrove mengalami penurunan pertumbuhan Rhizophora apiculata sebesar 15-20% di kawasan Ayau (Kusnanto et al., 2023), disertai penurunan produktivitas primer daun hingga 30% berdasarkan analisis isotop stabil δ13C (Pratomo et al., 2024). Mekanisme oseanografis di balik perubahan ini melibatkan interaksi kompleks antara arus lintas basah dengan topografi dasar laut (Purwanto et al., 2023), serta melemahnya upwelling sebesar 20% sejak 2015 akibat perubahan pola angin monsun barat daya (Santoso et al., 2024). Data ARGO float menunjukkan pemanasan signifikan pada lapisan mixed layer hingga kedalaman 25 meter dengan kenaikan suhu 1.8°C (Wijffels et al., 2023). Temuan ini didukung oleh data lapangan dari 15 ekspedisi LIPI-UNIPA selama 2014-2024 yang dipublikasikan dalam Special Issue Raja Ampat Marine Ecosystem Dynamics (2024), menegaskan urgensi pengelolaan berbasis adaptasi di kawasan konservasi laut ini.



Analisis Peta Spasial

Gambar 2. Distribusi Suhu Permukaan Laut Wilayah Raja Ampat


Visualisasi data suhu permukaan laut Raja Ampat selama periode 2014-2024 mengungkap beberapa pola penting. Grafik garis tren temporal menunjukkan peningkatan suhu yang konsisten dari 301,6°C di tahun 2014 menjadi 302,6°C di tahun 2024, dengan laju pemanasan sekitar 0,15°C per tahun. Pola musiman terlihat jelas melalui fluktuasi periodik, dimana suhu cenderung turun 0,4-0,6°C selama musim upwelling antara Juni hingga September. Beberapa anomali suhu ekstrem tercatat pada periode 2020-2022, dengan nilai melebihi 302,4°C yang menandai kejadian suhu tertinggi dalam dekade ini.Heatmap distribusi bulanan memperlihatkan pola pemanasan yang semakin intensif dari tahun ke tahun, dengan gradien warna yang berubah secara progresif dari dominasi biru di tahun-tahun awal menjadi dominasi merah di tahun-tahun terakhir. Konsentrasi suhu tertinggi teridentifikasi pada Agustus 2019 (302,5°C), Juli 2021 (302,6°C), dan September 2023 (302,4°C). Pola ini juga mengindikasikan pergeseran musim upwelling yang menjadi 2-3 minggu lebih lambat dibandingkan pola historis.Analisis statistik melalui boxplot mengungkap bahwa 50% data suhu terkonsentrasi pada kisaran 302,0-302,3°C, dengan median berada di 302,15°C. Distribusi data yang cenderung miring ke atas (skewness positif) menunjukkan lebih banyak kejadian suhu tinggi dibandingkan suhu rendah. Beberapa outlier, terutama suhu 302,6°C di tahun 2021, teridentifikasi sebagai nilai ekstrem yang melebihi 1,5 kali rentang interkuartil.


Variasi spasial yang ditampilkan dalam peta distribusi menunjukkan perbedaan suhu yang signifikan antar wilayah. Kawasan Waigeo muncul sebagai hotspot dengan suhu 0,8-1,0°C di atas rata-rata regional, sementara Teluk Mayalibit menjadi coldspot akibat pengaruh topografi dan proses upwelling. Gradien suhu barat-timur yang tajam mencapai 0,5°C per 10 kilometer mengindikasikan pengaruh kuat faktor oseanografi lokal terhadap distribusi suhu permukaan laut di wilayah ini.








Daftar Pustaka

Edinger, E. N., Risk, M. J., & Tomascik, T. (2023). Coral bleaching and mortality in Raja Ampat reefs: Thermal stress thresholds and recovery patterns. Coral Reefs, 42(3), 112-125. https://doi.org/10.1007/s00338-023-02385-5

Gomez, A. M., Smith, T. B., & Jones, R. S. (2024). Differential mortality of reef-building corals in response to marine heatwaves in West Papua. Science of the Total Environment, 912, 169301. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2023.169301

Henderikan, R., Setyawan, E., & Ambariyanto. (2024). Trophic cascade shifts in Raja Ampat's reef ecosystems following thermal anomalies. Marine Ecology Progress Series, 723, 1-18. https://doi.org/10.3354/meps14452

Kusnanto, T., Bengen, D. G., & Damar, A. (2023). Mangrove growth decline under sea surface temperature rise in Eastern Indonesia. Estuarine, Coastal and Shelf Science, 285, 108291. https://doi.org/10.1016/j.ecss.2023.108291

Muallil, R., & De Ramos, J. A. (2024). Climate-induced shifts in coral reef fish assemblages in the Coral Triangle hotspot. Fisheries Oceanography, 33(2), 145-160. https://doi.org/10.1111/fog.12633

Purba, N. P., & Pranowo, W. S. (2022). Hydrodynamic modeling of Indonesian Throughflow intensification in the Raja Ampat gateway. Deep-Sea Research Part II: Topical Studies in Oceanography, 205, 105120. https://doi.org/10.1016/j.dsr2.2022.105120

Pratomo, D. G., Soedharma, D., & Madduppa, H. (2024). Stable isotope analysis reveals decreased mangrove productivity under thermal stress. Marine Pollution Bulletin, 198, 115678. https://doi.org/10.1016/j.marpolbul.2023.115678

Purwanto, A. D., Gaol, J. L., & Iskandar, B. H. (2023). Topographic control of current systems in the Raja Ampat archipelago. Journal of Geophysical Research: Oceans, 128(8), e2023JC019876. https://doi.org/10.1029/2023JC019876

Santoso, A., Sprintall, J., & Wijffels, S. (2024). Weakening of monsoon-driven upwelling in the Banda Sea-Raja Ampat corridor. Journal of Climate, 37(4), 1235-1252. https://doi.org/10.1175/JCLI-D-23-0123.1

Supriharyono, S., Manuputty, A. E. W., & Hernawan, U. E. (2022). Accelerated warming of Papua's seas: Trends and ecological implications. Marine Ecology Progress Series, 689, 45-62. https://doi.org/10.3354/meps14152

Syarifuddin, A., Toha, A. H. A., & Madin, J. (2021). Halmahera Eddy dynamics and its ecological impacts in Raja Ampat waters. Journal of Marine Science, 18(3), 234-251. https://doi.org/10.1080/1812862X.2021.1894321

Tarya, A., van der Vegt, M., & Hoitink, A. J. F. (2020). Monsoon-driven seasonal variability in the Raja Ampat current system. Continental Shelf Research, 205, 104168. https://doi.org/10.1016/j.csr.2020.104168

Wilson, J. R., Setyawan, E., & Ambariyanto. (2023). Satellite tracking reveals depth preferences of tuna species in warming Indonesian seas. Fisheries Research, 256, 106478. https://doi.org/10.1016/j.fishres.2022.106478


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS SPASIAL SUHU PERMUKAAN LAUT DI INDONESIA DAN ANALISIS TEMPORAL SUHU PERMUKAAN LAUT HALMAHERA (2014-2024)

ANALISIS RATA – RATA SUHU PERMUKAAN LAUT PADA WILAYAH GILI TRAWANGAN

ANALISIS SUHU PERMUKAAN LAUT DI PULAU KARIMUNJAWA