ANALISIS SUHU PERMUKAAN LAUT SELAT SUNDA PADA TAHUN 2014-2024

 Peta Spasial Sebaran Suhu Permukaan Laut di Indonesia

Gambar 1. Suhu Permukaan Laut Indonesia


Gambar diatas adalah visualisasi dari sebaran suhu permukaan laut atau SPL di Indonesia. Wilayah Indonesia terletak di antara 6º LU – 11º LS dan 95º BT - 141º BT, antara Lautan Pasifik dan Lautan Hindi, antara benua Asia dan benua Australia, dan pada pertemuan dua rangkaian pegunungan, yaitu Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterranean. Hal tersebut membuat Indonesia menjadi wilayah beriklim tropis yang terletak di garis khatulistiwa. Gambar tersebut adalah peta spasial sebaran suhu di wilayah Indonesia yang ditunjukkan dengan perbedaan dan gradasi warna yang ada, dimana warna merah menunjukkan suhu paling tinggi, yaitu 30° Celcius, dan warna biru menunjukkan suhu terendah, yaitu 27° Celcius. 


Wilayah Indonesia bagian barat dan tengah, termasuk perairan sekitar Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku, menunjukkan suhu yang cukup tinggi, ditunjukkan dengan gradasi warna jingga hingga merah. Sebaliknya, perairan di sekitar Selat Sunda terlihat sedikit lebih dingin, karena warnanya yang menunjukkan warna biru. Variasi suhu ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kedalaman laut, arus laut regional, serta fenomena iklim global seperti El Niño dan La Niña yang berdampak pada distribusi suhu permukaan laut di wilayah maritim Indonesia (Suhana, 2018). Visualisasi dalam peta ini memberikan gambaran yang jelas tentang kondisi termal laut Indonesia serta perubahan suhu yang sedang terjadi.








Peta Spasial Sebaran Suhu Permukaan Laut di Selat Sunda

Gambar 2. Suhu Permukaan Laut di Selat Sunda


Selat Sunda adalah sebuah selat yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatra di Republik Indonesia, serta menghubungkan Laut Jawa dengan Samudra Hindia. Selat Sunda terletak di bagian selatan Provinsi Lampung dan di bagian barat Provinsi Banten. Pada titik tersempit, lebar Selat Sunda hanya sekitar 30 km. Beberapa pulau kecil terletak di selat ini, di antaranya gugusan-gugusan pulau vulkanik Krakatau yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Secara geologis, Selat Sunda terbentuk akibat aktivitas vulkanik ekstrim, terutama letusan Gunung Krakatau Purba pada tahun 535 M dan letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 yang membentuk lanskapnya.


Sama seperti peta sebelumnya, gambar di atas juga menunjukkan penyebaran suhu permukaan laut yang ada di wilayah tersebut, dengan gradasi warna yang sama. Merah menunjukkan suhu lebih tinggi, dan biru menunjukkan suhu lebih rendah. Peta di atas menunjukkan tren?? suhu permukaan laut di Selat Sunda dari tahun 2014-2024. Terdapat gradasi peningkatan suhu dari bagian barat ke timur, dengan suhu berkisar antara 28,7°C hingga 29,4°C, dapat juga dilihat dari perubahan warnanya dari biru ke merah. Dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan suhu di sekitar wilayah Selat Sunda, yang mengindikasikan adanya pemanasan yang dapat berdampak terhadap ekosistem laut. Arus laut di kawasan ini, yang merupakan bagian dari sistem arus lintas Indonesia, juga memainkan peran penting dalam dinamika suhu laut karena membawa massa air hangat dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia melalui jalur sempit seperti Selat Sunda (Susanto & Gordon, 2005).

Gambar 3. Grafik Time Series Rata-rata Suhu Permukaan Laut


Suhu permukaan laut (SST) Selat Sunda menunjukkan peningkatan jangka panjang dan perubahan musiman antara tahun 2010 dan 2024. Suhu yang dicatat setiap bulan berkisar antara 26,4 °C dan lebih dari 30 °C, seperti yang ditunjukkan dalam grafik. Fenomena upwelling—munculnya air dalam yang relatif dingin akibat transportasi massa Ekman selama musim monsun—sangat konsisten dengan penurunan suhu tajam yang terjadi di beberapa tahun (misalnya, 2011, 2015, 2019, dan 2024). Selain itu, Ramadlanie et al. (2018) menemukan bahwa meskipun konsentrasi klorofil meningkat, SST di pusat Selat Sunda tetap lebih tinggi. Penemuan ini menunjukkan bahwa batimetri lokal dan mekanisme upwelling berinteraksi secara kompleks.


Secara bertahap, pola musiman monsun khususnya monsun tenggara (Juni-Oktober) mendorong transportasi Ekman lepas pantai, menyebabkan perubahan SST dan peningkatan klorofil. Ini sejalan dengan temuan global bahwa perubahan iklim dan fenomena seperti El Niño/La Niña menyebabkan peningkatan SST di wilayah lepas pantai. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Roxy et al. (2024), yang mengamati peningkatan pemanasan di Samudra Hindia tropis, peningkatan suhu minimum dan frekuensi suhu puncak (lebih dari 29,5 °C) setelah tahun 2016 dapat dikaitkan dengan pemanasan global regional.


Dampaknya terhadap lingkungan sangat besar. Seringkali tinggi, terutama di atas 30 °C selama El Niño, dapat menyebabkan stres termal pada biota laut, termasuk pemutihan karang, dan gangguan terhadap rantai pangan makanan laut. Di sisi lain, upwelling yang membawa nutrien, meskipun permukaan laut mendingin, dapat meningkatkan produktivitas primer dan potensi tangkapan ikan, sesuai dengan mekanisme di kawasan laut lokal lainnya.


Oleh karena itu, grafik SST Selat Sunda tidak hanya menunjukkan variasi suhu; itu juga menunjukkan perubahan ekologi, peran fenomena iklim regional dan global (seperti monsun, El Niño, dan IOD), dan potensi pengaruh terhadap keberlanjutan ekosistem laut. Tren kenaikan suhu yang terus berlanjut harus menjadi perhatian serius dalam upaya konservasi, manajemen perikanan, dan mitigasi dampak perubahan iklim di bagian barat Indonesia.





DAFTAR PUSTAKA


Indrayanti, E., & Haryati, N. (2020). Pengaruh angin monsun barat laut terhadap sebaran suhu permukaan laut dan klorofil-a di perairan Selat Sunda. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 12(1), 141–154.


Ramadlanie, F. Y., Indrayanti, E., & Handoyo, G. (2022). Penentuan daerah upwelling berdasarkan indikator suhu permukaan laut dan klorofil-a di perairan Selat Sunda tahun 2010–2019. Indonesian Journal of Oceanography, 4(4), 237–248.


Roxy, M. K., Gnanaseelan, C., Deshpande, M., & Krishnan, R. (2024). Indian Ocean warming and its implications. In C. C. Ummenhofer & R. Hood (Eds.), The Indian Ocean and its Role in the Global Climate System (pp. 25–46). Elsevier.


Suhana, M., P. (2018). Karakteristik Sebaran Menegak dan Melintang Suhu dan Salinitas  Perairan Selatan Jawa. Dinamika Maritim, 6(2).


Susanto, R., D. (2005). Velocity and transport of the Makassar Strait Throughflow. Journal of Geophysical Research, 110.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS SPASIAL SUHU PERMUKAAN LAUT DI INDONESIA DAN ANALISIS TEMPORAL SUHU PERMUKAAN LAUT HALMAHERA (2014-2024)

ANALISIS RATA – RATA SUHU PERMUKAAN LAUT PADA WILAYAH GILI TRAWANGAN

ANALISIS SUHU PERMUKAAN LAUT DI PULAU KARIMUNJAWA