TREN SUHU LAUT & CURAH HUJAN DI PANGANDARAN (2014–2024)

 



HASIL PETA

Gambar 1. Grafik time series suhu permukaan laut Pantai Pangandaran


Gambar 2. Visualisasi spasial rata-rata suhu permukaan laut Pantai Pangandaran



PEMBAHASAN

Perubahan iklim telah memberikan dampak signifikan terhadap kondisi oseanografi dan atmosfer di wilayah pesisir, termasuk Pangandaran. Tren suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature/SST) dan curah hujan perlu ditelusuri untuk memahami dinamika lingkungan pesisir dan merancang strategi adaptasi yang sesuai (IPCC, 2021). Pangandaran sebagai wilayah pesisir memiliki dinamika laut dan atmosfer yang sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim global dan fenomena regional seperti El Niño dan La Niña. Dalam satu dekade terakhir, penting untuk meninjau kembali bagaimana suhu permukaan laut (SST) dan curah hujan berubah, serta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat pesisir.

  1. Analisis Tren Suhu Permukaan Laut (SST) di Pantai Pangandaran (2014–2024)


Berdasarkan analisis deret waktu suhu permukaan laut (SST) di Pantai Pangandaran antara tahun 2011 hingga 2024, terlihat bahwa suhu cenderung meningkat setiap tahunnya. Puncak suhu tahunan yang ditandai dengan warna merah menunjukkan bahwa meskipun terdapat fluktuasi musiman, secara keseluruhan tren SST menunjukkan peningkatan. Ini mencerminkan pola pemanasan laut yang stabil di wilayah Indonesia. Temuan ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Ahmad et al. (2025), yang menyatakan bahwa suhu permukaan laut di Laut Jawa telah meningkat rata-rata 0,31°C dalam sepuluh tahun terakhir.


Perubahan suhu musiman yang terlihat dalam grafik umumnya dipengaruhi oleh dinamika angin muson. Pada saat muson barat (Desember–Februari), suhu cenderung naik karena angin mengangkut massa air hangat dari Samudra Hindia ke perairan Indonesia. Sebaliknya, saat muson timur (Juni–Agustus), suhu menurun akibat pengaruh upwelling dan angin tenggara yang membawa air laut dingin dari lapisan bawah (Kida dan Richards, 2009). Selain pengaruh musiman, fenomena iklim global seperti El Niño dan La Niña juga memengaruhi variabilitas tahunan SST (Hu dan Sprintall, 2020).


Selain itu, Hu dan Sprintall (2020) menemukan bahwa laju pemanasan di Indonesia, termasuk di Laut Jawa dan area sekitarnya, berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan rata-rata global. Dalam tiga puluh tahun terakhir, suhu permukaan laut di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 0,19 ± 0,04°C per dekade, sementara rata-rata global hanya 0,07°C per dekade. Pemanasan ini disebabkan oleh faktor oseanografis seperti menurunnya kedalaman lapisan campuran (mixed layer), yang membuat permukaan laut lebih mudah menyerap panas dari atmosfer.


Konsekuensi dari peningkatan SST ini cukup besar. Salah satu dampak paling menonjol adalah meningkatnya insiden pemutihan terumbu karang, seperti yang terlihat di Bali pada tahun 2023, di mana suhu permukaan laut yang tinggi menyebabkan kerusakan pada ekosistem terumbu karang (Reuters, 2024). Selain itu, suhu laut yang lebih tinggi dapat memengaruhi distribusi ikan, waktu penangkapan, serta pola curah hujan dan badai tropis, yang berdampak pada sektor perikanan dan pertanian bagi komunitas pesisir (World Bank, 2021).


  1. Analisis Visualisasi Spasial Suhu Permukaan Laut (SST) di Pangandaran (2014–2024)


Gambar 2. memperlihatkan peta rata-rata suhu permukaan laut (SST) selama sepuluh tahun (2014–2024) di sekitar pantai selatan Jawa Barat, dengan perhatian khusus pada Pantai Pangandaran. Skala warna menunjukkan nilai SST berkisar antara 27°C hingga 31°C, dan titik koordinat Pangandaran (long: 108. 6, lat: -7. 7) terletak di daerah berwarna merah terang, menandakan suhu sekitar 29°C–30°C.


Dengan melihat data ini, dapat dilihat bahwa wilayah pantai selatan Jawa Barat memiliki suhu laut yang cenderung hangat secara konsisten, yang sesuai dengan sifat daerah tropis di dekat ekuator. Suhu laut yang hangat ini memiliki beberapa dampak:


  1. Produktivitas Perikanan dan Ekosistem Laut

Suhu laut yang stabil dan hangat seperti ini mendukung pertumbuhan fitoplankton, namun jika suhu meningkat melebihi batas toleransi biologis (>30°C), dapat menyebabkan stres termal pada ekosistem terumbu karang dan mengurangi produktivitas perikanan (Hoegh-Guldberg et al., 2007).


  1. Indikasi Dampak Perubahan Iklim

Kenaikan suhu laut secara jangka panjang dapat mengindikasikan dampak pemanasan global dan perubahan iklim. Studi oleh Cheng et al. (2019) menunjukkan bahwa lautan global terus mengalami pemanasan dengan akumulasi panas tertinggi terjadi di lapisan permukaan.


  1. Pengaruh Terhadap Curah Hujan dan Pola Musim

Suhu permukaan laut yang tinggi di wilayah selatan Jawa dapat meningkatkan evaporasi, sehingga berdampak pada intensitas hujan lokal. Hubungan antara SST dan curah hujan tropis telah dibuktikan dalam berbagai penelitian (Waliser & Graham, 1993), yang menunjukkan bahwa SST di atas 28°C berkorelasi positif dengan kejadian hujan konvektif.


  1. Pengaruh Fenomena Iklim Global

Fluktuasi SST tahunan bisa dipengaruhi oleh fenomena ENSO (El Niño Southern Oscillation). Dalam fase El Niño, suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menghangat dan bisa berdampak pada pola SST regional di Indonesia (Ropelewski & Halpert, 1987).


Daftar Pustaka


Cahya Budiman, Y. (2024, July 5). Coral bleachings devastate Bali reefs as sea temperatures 

rise. https://www.reuters.com/business/environment/coral-bleachings-devastate-bali-reefs-sea-temperatures-rise-2024-07-05/ 

Cheng, L., Abraham, J., Hausfather, Z., & Trenberth, K. E. (2019). How fast are the oceans 

warming? Science, 363(6423), 128–129. https://doi.org/10.1126/science.aav7619 

Climate Change 2021: The Physical Science Basis. (n.d.). IPCC. 

https://www.ipcc.ch/report/ar6/wg1/ 

Hoegh-Guldberg, O., Mumby, P. J., Hooten, A. J., Steneck, R. S., Greenfield, P., Gomez, E., 

Harvell, C. D., Sale, P. F., Edwards, A. J., Caldeira, K., Knowlton, N., Eakin, C. M., Iglesias-

Prieto, R., Muthiga, N., Bradbury, R. H., Dubi, A., & Hatziolos, M. E. (2007). Coral reefs under rapid climate change and ocean acidification. Science, 318(5857), 1737–1742. https://doi.org/10.1126/science.1152509 

Iskandar, I., Mardiansyah, W., Lestari, D. O., & Masumoto, Y. (2020). What did determine the 

warming trend in the Indonesian sea? Progress in Earth and Planetary Science, 7(1). 

https://doi.org/10.1186/s40645-020-00334-2 

Kida, S., & Richards, K. J. (2009). Seasonal sea surface temperature variability in the Indonesian 

Seas. Journal of Geophysical Research Atmospheres, 114(C6). 

https://doi.org/10.1029/2008jc005150  

Ropelewski, C. F., & Halpert, M. S. (1987). Global and Regional Scale Precipitation Patterns 

Associated with the El Niño/Southern Oscillation. AMETSOC

https://doi.org/10.1175/1520-0493(1987)115 

Syamsuddin, M., D Haq, H., Ismail, M. R., Syamsudin, F., Sunarto, & Abdurrahman, U. (2025). 

Variability in sea surface temperature and sea surface height in connection with global 

warming in the Java Sea. AACL Bioflux, 18(2). https://bioflux.com.ro/docs/2025.555-565.pdf  

Waliser, D. E., & Graham, N. E. (1993). Convective cloud systems and warm‐pool sea surface 

temperatures: Coupled interactions and self‐regulation. Journal of Geophysical 

Research Atmospheres, 98(D7), 12881–12893. https://doi.org/10.1029/93jd00872 

World Bank Group & Asian Development Bank. (2021). CLIMATE RISK COUNTRY PROFILE 

INDONESIA. https://climateknowledgeportal.worldbank.org/sites/default/files/2021-05/15504-Indonesia%20Country%20Profile-WEB_0.pdf

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS SPASIAL SUHU PERMUKAAN LAUT DI INDONESIA DAN ANALISIS TEMPORAL SUHU PERMUKAAN LAUT HALMAHERA (2014-2024)

ANALISIS RATA – RATA SUHU PERMUKAAN LAUT PADA WILAYAH GILI TRAWANGAN

ANALISIS SUHU PERMUKAAN LAUT DI PULAU KARIMUNJAWA